Dalam sejarah peradaban, kegelapan sering kali bukan berarti ketiadaan cahaya matahari, melainkan ketiadaan akses terhadap ilmu pengetahuan. Ribuan tahun lalu, Nabi Muhammad SAW hadir di tengah masyarakat Jahiliyah untuk membawa misi Minaz-Zulumati ilan-Nur—mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kebodohan menuju terangnya cahaya Islam. Semangat transendental inilah yang kemudian beresonansi kuat dalam perjuangan Raden Ajeng Kartini di tanah Jawa.
Menuntut Ilmu: Mandat Ilahi yang Universal
Islam menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama martabat manusia. Melalui sabdanya, Nabi Muhammad SAW menegaskan:
"Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim laki-laki dan Muslim perempuan."
Perintah ini menghapuskan kasta gender dalam ranah intelektual. Kartini, melalui kegelisahannya, secara tidak langsung mengamalkan esensi hadis ini. Beliau mendobrak tembok pingitan karena yakin bahwa perempuan yang berilmu adalah pilar utama peradaban. Bagi Kartini, seorang ibu yang cerdas adalah guru pertama (Madrasatul Ula) yang akan melahirkan generasi unggul.
Dari Jahiliyah Menuju Pencerahan
Misi Nabi Muhammad adalah meruntuhkan tatanan Jahiliyah yang menindas hak-hak kemanusiaan, terutama perempuan. Berabad-abad kemudian, Kartini menghadapi situasi serupa di bawah kolonialisme dan adat yang mengekang.
Persamaan misi keduanya terletak pada kata "Pencerahan":
Habis Gelap Terbitlah Terang: Judul legendaris buku Kartini sebenarnya adalah refleksi dari prinsip Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah: 257) tentang Tuhan yang membimbing hamba-Nya keluar dari kegelapan menuju cahaya.
Perjuangan Kartini adalah manifestasi nyata dari ajaran Islam tentang kemuliaan ilmu. Beliau membuktikan bahwa menjadi seorang muslimah yang taat bukan berarti harus terpenjara dalam ketidaktahuan. Sebaliknya, pendidikan adalah alat untuk memenuhi tugas manusia sebagai khalifah di bumi.
Kini, kita memahami bahwa memuliakan perempuan dengan pendidikan bukan sekadar tuntutan zaman atau tren emansipasi, melainkan pemenuhan kewajiban agama yang telah digariskan oleh Rasulullah SAW. Warisan Kartini dan ajaran Nabi bertemu pada satu titik terang: bahwa hanya dengan ilmu pengetahuan, sebuah bangsa dapat benar-benar merdeka dan bermartabat.
20.56
SDIT Bina Insan Mulia JATIROTO















